Showing posts with label hadeeth. Show all posts
Showing posts with label hadeeth. Show all posts

Saturday, 8 January 2011

Al-Munafiqun

 Sufyan bin `Abdullah (May Allah be pleased with him) reported: I asked: "O Messenger of Allah! Tell me, of something to which I may remain steadfast.'' He (PBUH) said, "Say: My Rubb is Allah and then remain steadfast.'' Then I said: "O Messenger of Allah! What do you fear most about me?'' He took hold of his own tongue and said: "This.''
-Transmitted by Ahmad, Tirmidhi, Ibn Majah


Al-Muraisi adalah nama sungai yang terdapat di daerah Qudaid sampai as-Sahil. Sungai itu berada di kawasan Madinah. Jarak al-Muraisi dengan garis pantai sejauh 80 kilometer. Di daerah inilah tempat terjadinya perang antara kaum Muslim dan Bani Mushtaliq dari Khuzaah sekitar 6 Hijriah.

Sekalipun peperangan ini tidak berjalan lama dan berlarut-larut, tapi buntut dari peperangan ini sempat mengguncang dan meresahkan kaum Muslim. Akar persoalannya berasal dari ulah kelompok kaum munafik.

Peperangan al-Muraisi dimulai saat Rasulullah mendapat informasi bahwa pemimpin Bani al-Mushthaliq, al-Harits bin Abu Dhirar, sedang menghimpun kaumnya untuk memerangi kaum Muslim. Mendapat informasi ini Rasulullah mengutus Buraidah bin al-Hushaib al-Aslamy untuk mengecek kebenaran informasi tersebut.

Setelah Buraidah melakukan pengecekan dan memang al-Harits bin Abu Dhirar sedang berupaya memerangi kaum Muslim, Rasulullah bertindak cepat dengan menghimpun para sahabat dan berangkat menuju al-Muraisi. Dalam pasukan kaum Muslim tersebut, terdapat segolongan orang-orang munafik yang ikut bergabung. Mereka tergiur oleh harta rampasan perang karena dalam perang-perang sebelumnya kaum Muslim selalu memperoleh kemenangan.

Setelah pasukan Rasulullah sampai di Qudaid, Muraisi, mereka bertemu dengan pasukan al-Harits bin Abu Dhirar. Kedua pasukan itu pun saling melepaskan anak panah. Namun, beberapa lama kemudian Rasulullah memerintahkan untuk melancarkan serangan serentak, yang kemudian berhasil menundukkan pasukan al-Harits.

Pasukan musuh cukup banyak yang terbunuh, sementara korban dari kaum Muslim hanya satu orang saja. Di antara tawanan perang tersebut ada seorang wanita bernama Juwairiyah binti al-Harits, anak pemimpin mereka.

Dalam pembagian harta rampasan dan tawanan, Juwairiyah menjadi bagian Tsabit bin Qais. Namun, Tsabit ingin melepaskan dengan uang tebusan sehingga Rasulullah menebusnya lalu dinikahi. Dikarenakan perkawinan Rasulullah dan Juwairiyah ini, orang-orang Muslim membebaskan 100 dari keluarga Bani Mushthaliq yang telah masuk Islam.

Yang luar biasa dari peperangan ini adalah banyaknya fitnah yang dihembuskan kaum musyrikin. Antara lain, mengenai kabar bohong kaum Muhajirin akan menguasai kaum Anshar di tanah Madinah. Isu tersebut sempat menimbulkan ketegangan antara kedua penopang utama pasukan Muslimin.

Peristiwa ini berawal dari peristiwa senggolan antara kaum Anshar, Jahjah Al-Ghifary, orang upahan Umar bin Khatab dan Sinan bin Wabar Al-Juhanny, yang masuk kaum Muhajirin. Peristiwa senggolan di dekat mata air al-Muraisi setelah perang selesai itu berkembang menjadi adu mulut. Sinan berteriak, "Hai orang-orang Anshar…" Jahjah juga berteriak, "Hai orang Muhajirin…"

Kejadian ini didengar seorang dari golongan kaum munafik, Abdullah bin Ubay. Dia kemudian menggunakan kesempatan itu untuk mengadu domba kaum Anshar dan Muhajirin dengan memunculkan kebencian kaum Anshar terhadap Muhajirin.

Hasutan Abdullah bin Ubay ini membuat Umar bin Khattab marah dan mengusulkan pada Rasullullah untuk membunuhnya. Mendapat usul tersebut Rasulullah menjawab, "Bagaimana wahai Umar jika manusia membicarakan bahwa Muhammad telah membunuh rekan-rekannya? Tidak. Tapi, suruhlah pasukan untuk berangkat."

Rasululullah sengaja mengajak pasukannya berjalan agar pasukannya bisa melupakan kejadian itu. Beliau mengajak pasukannya berjalan kaki selama dua hari dua malam hingga pasukannya kelelahan dan mengantuk.

Abdullah bin Ubay sendiri setelah tahu bahwa perbuatannya diketahui Rasulullah buru-buru menemui Rasulullah dan bersumpah tidak lagi berbuat seperti itu. Berkenaan dengan peristiwa ini, Allah menurunkan ayat suci dalam QS Al-Munafikun ayat 1-8.

Seperti diketahui, Abdullah bin Ubay sebelumnya memang sangat mendendam terhadap Islam dan orang-orang Muslim, terlebih terhadap Rasulullah. Dia menganggap Rasulullah telah merampas kekuasaan yang sudah ada di tangannya.

Hal ini karena sebelum Rasulullah hijrah ke Madinah, Aus dan Khazraj sudah sepakat mengangkatnya sebagai pemimpin dan telah membuatkan mahkota bagi dirinya. Sekalipun telah menyatakan masuk Islam setelah perang Badr, tetap saja dia menjadi musuh Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang Mukmin.

Selain peristiwa itu, setelah perang singkat tersebut kaum munafik juga menyebarkan berita bohong mengenai Aisyah RA, istri Rasulullah SAW. Dalam peperangan dengan Bani Mushtaliq ini, Rasulullah memang didampingi oleh beliau.

Dalam perjalanan kembali ke Madinah setelah peperangan, Aisyah merasa kalungnya hilang. Ketika rombongan pasukan Rasulullah berhenti beristirahat, Aisyah keluar dari tandu mencari kalung tersebut. Ketika pasukan Rasulullah kembali bergerak, pengangkat tandu tidak tahu bahwa Aisyah belum kembali ke tandu.

Mengetahui telah tertinggal rombongan, Aisyah duduk di jalan yang menuju Madinah menunggu rombongan itu kembali menjemputnya. Kebetulan, pada saat itu seorang sahabat Nabi, Shafwan Ibnu Mu'aththal, melintas di jalan dan menemukan Aisyah sedang tertidur sendiri. "Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un, isteri Rasul!". Aisyah pun terbangun, lalu dipersilahkan oleh Shafwan untuk mengendarai untanya. Syafwan berjalan menuntun unta sampai mereka tiba di Madinah.

Kejadian itu akhirnya menimbulkan desas-desus yang dimanfaatkan kaum munafik untuk menghancurkan nama baik isteri Rasulullah SAW. Dalam kejadian ini, Allah kemudian berfirman, "Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu juga. Janganlah kamu kira bahwa berita bohong itu buruk bagi kamu, bahkan ia adalah baik bagi kamu. Tiap-tiap seseorang dari mereka mendapat balasan dari dosa yang dikerjakannya dan siapa di antara mereka yang mengambil bahagian yang terbesar dalam penyiaran berita bohong itu, baginya azab yang besar." (An-Nur ayat 11)

Rasulullah menghadapi semua itu dengan sabar dan lemah lembut, sementara orang-orang Muslim sudah tidak tahan dengan kejahatan orang-orang munafik, sebab mereka sudah tahu persis kelicikan mereka dari waktu ke waktu. Sebagaimana Allah berfirman, "Tidaklah mereka (orang-orang munafik) memperhatikan bahwa mereka diuji sekali atau dua kali setiap tahun. Namun, mereka tidak (juga) bertaubat dan tidak (pula) mengambil pelajaran." (At-Taubah ayat 126)

Sunday, 12 September 2010

Kekhilafanku....

Assalamualaikum burung2 mujahidah,


Selamat Hari Raya, Mohon Maaf Zahir dan Batin dari hujung tudung hingga hujung kaki, ikhlas daripada Ateeqa Nasha, sahabatmu yg terkapai2 dalam kejahillan, kekhilafan dan kehinaan tetapi sangat2 bersyukur atas anugerah  ukhuwwah fisabilillah kurniaNya yg tak semua dapat.


statement  'Maaf Zahir dan Batin' mmg tak lekang pnye lah masa puasa dan raya..especially raya.

it is indeed just a figure of speech. kalo tak raye, takde la kite nk mintak maaf kn. maybe jarang. like they say 'Sorry seems to be the hardest word'. bg contoh eh, kite tahu kite ade ngupat someone...tapi kite mintak maaf on the spot kat org tu. dlm hati dah terdetik buat dosa dan kene mintak maaf. tapi tunggu raya lah..tak lah segan sgt nk mintak maaf. so bile raya tiba, 'Maaf Zahir dan Batin' pon dipintalah kat org tu... means, they would know they have asked for forgiveness from the person sbb dia dah ckp  'Maaf Zahir dan Batin' and siap pandai plak tu tambah 'atas segala salah silap, dosa saye sengaja atau tak sengaja'. org tu pon reply 'oh takpe..takde buat salah pon..' atau 'same2lah kite'. haa....who knows best other than you and especially Allah? kawan yg 'ter' or sengaje ngupat tadi pon rase lah legaaa~...now we're back 0-0 seri.

 sedar atau tak sedar, itu sebab lah di antara kawan2 kite boleh buat main lagi 'oke takpe lah. aku tunggu raya tahun depan plak mintak maaf kat kau'. what does that statement mean to us? bile Ababil pikirkan balik, astarghfirullahal'adzim. there's a real problem here. sedar tak sedar, diri sendiri pon tersepit dlm kejahilan mcm tu :( saye slalu terlupe..



TO SUM UP, bukanlah tak boleh nk 'Mohon Maaf Zahir dan Batin' dari kawan2 dan family lepas ni, what i'm trying to express is that, say it even when we're not in the holy months of ramadhan and syawal. tp subhanallah, those who ses, would know these two months are indeed the contemplating months, the months of reflection, introspection and muhasabah diri of ourselves! Ramadhan Kareem, especially, it's the month of retraining ourselves, renurturing our nafs. and yes, only our nafs is handful enough to deal with even during the syaitan's temporary departure.

pernah tak burung sekalian terfikir, how much difference do you see yourself in ramadhan compared to the rest of the other months? with the PRESENCE of musuh yg nyata i.e. syaitan laknatullah, and with the ABSENCE of them? kalau lebih kurang same je kite pd bulan ramadhan dan bulan2 lain, then, 'hasutan syaitan' is no excuse. it's all up to us without the influence of syaitan. because they are being locked away... so, it's nafs that we are struggling with and in other times it's worse with the 'help' of the lucifers stirring up our fragile feelings and nafs. wallahualam...


"Ketika malam pertama bulan Ramadhan telah datang, syaitan-syaitan dan jin-jin dibelenggu, pintu-pintu neraka ditutup rapat sehingga tak satu pun yang masih terbuka"
Hadith Riwayat : At-Tarmidzi


berbalik kepada 'Maaf Zahir dan Batin' pnye story, jomlah kite maafkan semua org. inshaAllah hati bersih dgn takdenye grudge and vengeance kat org lain. maafkan someone walaupun susah, it's not about them, it's about us..it's the process of healing and purifying ourself, getting closer to God and sedar attribute kite yg hanyalah sebagai hamba abdiNya yg hina, lemah dan sentiasa perlukan pertolongan dan juga pengampunanNya. kalau kite malu kat org, kite sebenarnye lebih malu kat Allah. kalau kite sombong kat org, sebenarnye kite lebih sombong kat Allah. wallahualam...sungguh, peringatan ini tak lain tak bukan, utk mengingati diri Ababil ni sendiri yg sering alpa...

Maksud Khilaf menurut Wikepedia adalah : "dari bahasa Arab bererti keliru atau salah. Biasanya ini berkaitan dengan perbuatan seseorang."

“I've learned that no matter how good a friend someone is, they're going to hurt you every once in awhile and you must forgive them for that.”

“Most of us can forgive and forget; we just don't want the other person to forget that we forgave”
“One of the secrets of a long and fruitful life is to forgive everybody everything before you go to bed”

“Before you speak, listen.

Before you write, think.

Before you spend, earn.

Before you invest, investigate.

Before you criticize, wait.

Before you pray, forgive.

Before you quit, try.

Before you retire, save.

Before you die, give.”



2:263












Sahih International
Kind speech and forgiveness are better than charity followed by injury. And Allah is Free of need and Forbearing.






Forgiving others that have done you wrong is good. But the truth is, you forgive yourself when you forgive others. Vengeance is energy consuming. It robs you from all happiness of life and limit your love capability. Forgiving is like releasing something from a cage. You'll feel free yourself and light of new hope will shine upon your soul. Forgetting the forgiven is much better. You learn from it, not remember it as something that pains your soul.

Saturday, 10 July 2010

The Tree that Resembles a Believer

Bismillah

The saying of the Messenger sal Allahu alayhi wa sallam:

“Indeed there is a tree that does not shed its leaves, it resembles a Muslim. So tell me, which is it?”


So people started discussing the trees of the country side. ‘Abdullaah ibn ‘Umar said: “I thought to myself that it was the date palm tree, but I was shy [and did not speak up].” So they asked the Messenger sal Allahu alayhi wa sallam: “Tell us what it is O Messenger of Allah.” He said: “It is the date palm tree.”


I mentioned this to ‘Umar who said: “It would have been more beloved to me than such and such had you said it was the date palm tree.” [Collected by al-Bukhari. Also collected by Muslim; the wording is for Muslim].

Imam An-Nawawee comments:

There are a number of benefits in this Hadeeth:



  1. Amongst them is that a scholar asks his companions about an issue to test their understanding, encouraging them to think and pay attention, this is recommended.
  2. Amongst them: Giving analogies and likening things to others.
  3. Amongst them: Respecting elders as ibn ‘Umar did, but if the elders do not know the answer then the youngster who knows it should respond.
  4. Amongst them: The happiness of a parent for the merit and understanding of his son, and the statement of ‘Umar: “It would have been more beloved to me had you…” What he intended was that the Prophet sal Allahu alayhi wa sallam supplicates for his son and learns of his merit and understanding.
  5. The virtue of the date palm:


The scholars stated: The Muslim was likened to the date palm due to the abundance of its goodness, the continuity of its shade, the goodness of its fruit and its presence throughout the year. Indeed from the time its fruit emerges, it could continue to be eaten until it dries, and after it dries a lot of benefits are gained from it. Likewise from its leaves, wood and branches; they are used for staffs, fire wood, rods, straw mats, ropes and utensils amongst other uses. The last thing is the date stone which is used as fodder for camels. Furthermore, the beauty of its growth and the pleasant shape of its fruit, all of it is beneficial, is goodness and beauty.


Just as the believer is all goodness, from the abundance of his obedience and the nobility of his manners. He constantly prays, fasts, reads, remembers, gives in charity, enjoins the ties along with the rest of the forms of worship and other than this.


This is the correct angle of resemblance. It was also said that the angle of resemblance is that if the top of it is chopped off the rest of it dies in contrast to the rest of the types of trees. It was also that it is because it does not produce fruit until it is pollinated and Allah knows best.


Reference: Sharh Saheeh Muslim | Source: SubulAsSalaam